Kaleidoskop 2019: Wanita di Balik Bom Bunuh Diri Sibolga hingga Penusukan Wiranto -->

Kaleidoskop 2019: Wanita di Balik Bom Bunuh Diri Sibolga hingga Penusukan Wiranto

Minggu, 29 Desember 2019


INDONESIAMAJU -  2019 menjadi tahun yang cukup ‘sibuk’ bagi warga tanah air. Selain harus menghadapi hajatan Pemilu Pilpres dan Pileg, sejumlah perisitiwa kejahatan luar biasa juga terjadi sepanjang tahun 2019.

Berdasarkan data yang dihimpun ada sejumlah kasus kejahatan yang menjadi sorotan dan menimbulkan polemik yang cukup panjang selama 2019. Beberapa di antaranya yaitu kasus  pengungkapan jaringan terorisme di Sibolga, Sumatera itu.

Yang menjadi sorotan, yaitu peran istri terduga teroris, Abu Hamzah yang menolak menyerah, dan memilih untuk meledakkan diri bersama anak-anaknya di dalam rumah yang telah terkepung aparat.

Selain itu penangkapan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK. Pemberitaan penangkapan Romi, sapaan Romahurmuziy ini sempat bertengger menjadi topik yang cukup lama menjadi pembahasan di masyarakat.

Berbagai pihak berkomentar dan turut menyayangkan, lantaran Romi, yang selama ini dikenal sebagai Ketua Umum partai paling muda, dan dikenal sebagai sosok yang bersih.

Dua bulan jelang berakhirnya 2019, serangan teror kembali terjadi, kali ini dialami oleh Menko Polhukam, Wiranto. Mantan Ketua Umum Partai Hanura itu ditusuk oleh terduga teroris pengikut Jemaah Ansarut Daulah (JAD) di Pandeglang, Banten.

Selain itu ada pula berita kejahatan bermuatan politik, yaitu mengenai pengungkapan pengungkapan skenario pembunuhan 4 tokoh nasional, yang menjerat mantan Pangkostrad Kivlan Zen, dan politikus PPP Habil Mariti. Berikut sejumlah beberapa beritat terpopuler yang menjadi topik terhangat sepanjang 2019:

Detik-Detik Teroris Sibolga Gagal Bujuk Istrinya yang Memilih Ledakkan Bom
Upaya negosiasi terhadap istri terduga teroris, Husain alias Abu Hamzah (AH) di Sibolga, Sumatera Utara untuk menyerahkan diri kandas.

Wanita yang belum diungkap identitasnya itu memilih mengakhiri hidupnya dengan melakukan bom bunuh diri bersama anaknya dari dalam rumah.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, untuk membujuk agar wanita itu mau menyerahkan diri, polisi telah melibatkan sang suami, Husain, agar  segera menyerahkan diri. Negosiasi yang dipimpin Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto itu juga melibatkan tokoh masyarakat.

"Suaminya itu bahkan sempat menyampaikan imbauan kepada istrinya. Tapi AH (Husain) yakin dan menyampaikan kepada petugas, istrinya lebih kuat terpapar paham ISIS dibanding dia sendiri," ujar Dedi di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Aparat masih menjaga jarak dengan rumah Husain dalam negosiasi tersebut. Sebab diketahui banyak bom rakitan di dalam rumah yang siap diledakkan kapan saja. Menurutnya, negosiasi dilakukan dengan sangat hati-hati agar bisa menyelamatkan nyawa istri dan anaknya yang masih balita.

Penusukan Wiranto di Banten
Menko Polhukam Wiranto jadi korban penusukan saat kunjungan kerja ke Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis 10 Oktober 2019.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan kronologi terjadinya peristiwa tersebut. Saat itu, Wiranto baru sampai di lokasi untuk menghadiri acara pembekalan mahasiswa ketika seorang pria tak dikenal berusaha menusuknya.

"Peristiwa spontan. Ketika menuju mobil, ada masyarakat minta salaman. Beliau (Wiranto) menyalami, tapi bagian pengaman internal, dalam waktu singkat seorang yang diduga pelaku langsung menusukkan benda tajam. Kapolsek ada di tempat alami luka di punggung. Wiranto juga alami luka di tubuh bagian depan," tutur Dedi di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Pihak pengamanan yang saat itu bertugas sontak mendorong Wiranto agar jauh dari pelaku penusukan. Wiranto pun terjatuh ke tanah, namun sempat terluka kena benda tajam di perut bagian bawah. Pria pelaku penusukan langsung diamankan.

Selain itu, seorang Kapolsek juga sempat terkena tusuk ketika mengamankan. "Begitu srek mau menyerang, diamankan. Terus nyerang lagi, Kapolsek (kena tusuk)," sambungnya.

Peristiwa spontan. Ketika menuju mobil, ada masyarakat minta salaman. Beliau (Wiranto) menyalami, tapi bagian pengaman internal, dalam waktu singkat seorang yang diduga pelaku langsung menusukkan benda tajam. Kapolsek ada di tempat alami luka di punggung. Wiranto juga alami luka di tubuh bagian depan," tutur Dedi di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Pihak pengamanan yang saat itu bertugas sontak mendorong Wiranto agar jauh dari pelaku penusukan. Wiranto pun terjatuh ke tanah, namun sempat terluka kena benda tajam di perut bagian bawah. Pria pelaku penusukan langsung diamankan.

Selain itu, seorang Kapolsek juga sempat terkena tusuk ketika mengamankan. "Begitu srek mau menyerang, diamankan. Terus nyerang lagi, Kapolsek (kena tusuk)," sambungnya.

"Beliau (Wiranto) diserang dua orang. Laki laki, dan pada saat balik kendaran pelaku menyerang. Kapolsek mengamankan (kena) ditusuk," tutur Dedi.

Diduga Terpapar Paham ISIS
Dedi melanjutkan, ada dugaan bahwa pelaku penyerangan sudah terpapar oleh paham radikal kelompok teroris ISIS. "Dugaan laki-laki dapat diduga terpapar paham radikal ISIS, yang perempuan didalami (motifnya)," ujar Dedi.

Saat ini, dua pelaku sudah diamankan di Polda Banten. Yakni, satu orang laki-laki yang melakukan upaya penusukan dan seorang perempuan yang diduga istri pelaku. Identitas pelaku pun sedang didalami. "Sedang didalami. Identitas sudah didapat di backup Densus 88. (Mendalami) motifnya para terduga tersebut," ujarnya.